5 Cara Bantu Anak Putus Sekolah di Sekitar Kita & Pahalanya
Artikel

5 Cara Bantu Anak Putus Sekolah di Sekitar Kita & Pahalanya

17 Oktober 2026Ditulis oleh Tim Redaksi Sedekah.idDitinjau dengan prinsip BAL (Benar · Akurat · Lengkap)

Cara bantu anak putus sekolah: donasi alat tulis/seragam, galang beasiswa informal, tawarkan les gratis, hubungkan ke lembaga pendidikan, atau adopsi biaya sekolah rutin. Menurut BPS 2023, 1,5 juta anak usia sekolah di Indonesia tidak bersekolah. Sedekah pendidikan termasuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir selama ilmu bermanfaat.

Kenapa Masih Banyak Anak Putus Sekolah?

Anak putus sekolah adalah anak usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan pendidikan formal karena berbagai hambatan, terutama ekonomi, jarak, atau kondisi keluarga. Data BPS 2023 mencatat sekitar 1,5 juta anak usia 7-18 tahun di Indonesia tidak bersekolah, dengan angka tertinggi di daerah terpencil dan keluarga prasejahtera.

Kita sering melihatnya: anak tetangga yang berhenti sekolah karena orangtua sakit, adik teman yang terpaksa kerja bantu keluarga, atau anak di kampung yang sekolahnya jauh dan nggak ada ongkos. Rasanya sedih, tapi kadang kita bingung mau bantu dari mana.

Kabar baiknya, ada cara-cara konkret yang bisa kita lakukan—bahkan dari hal kecil—untuk jadi bagian dari solusi. Dan yang lebih indah lagi, sedekah pendidikan ini termasuk sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir.

1. Donasi Alat Tulis, Seragam, atau Tas Sekolah

Cara paling simpel: kumpulkan alat tulis, buku bekas layak pakai, seragam yang masih bagus, atau tas sekolah yang nggak terpakai. Koordinasi dengan RT/RW atau guru sekolah terdekat untuk tahu siapa yang butuh.

Kalau mau lebih praktis, kamu bisa belikan paket alat tulis baru (pensil, buku tulis, penghapus) seharga 50-100 ribu dan langsung serahkan ke anak atau keluarganya. Kadang, hambatan sekolah itu sepele: nggak punya pensil atau seragam robek. Bantuan kecil ini bisa jadi pintu mereka kembali semangat belajar.

Tips: Tanyakan dulu kebutuhan spesifiknya, jangan asal kasih. Anak SMP butuhnya beda sama anak SD.

2. Galang Beasiswa Informal Bareng Teman atau Komunitas

Nggak harus lembaga besar kok. Kamu dan teman-teman bisa patungan rutin—misalnya 50 ribu per bulan per orang—untuk biayai satu anak sekolah. Biaya SPP SMP negeri di daerah rata-rata 100-300 ribu per bulan, jadi kalau 5 orang patungan, sudah cukup.

Buat kesepakatan jelas: siapa yang dibantu, berapa lama, dan bagaimana monitoring-nya (laporan raport, kehadiran). Libatkan orangtua anak agar mereka juga merasa dihargai dan ikut menjaga komitmen anaknya sekolah.

Cara ini juga bisa jadi ladang amal bersama yang mempererat persahabatan. Seperti yang Allah firmankan, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa" (QS. Al-Ma'idah: 2).

3. Tawarkan Les atau Mentoring Gratis Sesuai Keahlianmu

Kalau kamu jago Matematika, Bahasa Inggris, atau skill lain, tawarkan les gratis seminggu sekali untuk anak-anak di sekitar rumah yang kesulitan belajar. Nggak perlu formal, bisa di teras rumah atau masjid.

Banyak anak putus sekolah atau hampir putus karena merasa tertinggal dan malu. Dengan mentoring sederhana, kamu bantu mereka percaya diri lagi. Bonus: kamu juga belajar sabar dan ikhlas.

Kalau nggak sempat rutin, ajak teman-teman bergantian. Atau hubungkan mereka dengan komunitas belajar online gratis yang bisa diakses lewat HP.

4. Hubungkan Anak dengan Lembaga Pendidikan atau Beasiswa Resmi

Kadang keluarga nggak tahu ada program Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa daerah, atau sekolah gratis dari yayasan. Kamu bisa bantu carikan informasi, dampingi urus berkas, atau antar ke sekolah/dinas pendidikan.

Banyak program beasiswa yang sebenarnya terbuka lebar, tapi nggak sampai ke telinga keluarga prasejahtera karena mereka sibuk cari makan atau nggak paham cara aksesnya. Di sinilah peranmu jadi jembatan informasi sangat berarti.

Kamu juga bisa kenalkan mereka ke lembaga seperti Sedekah.id yang menyalurkan bantuan pendidikan, atau yayasan lokal yang fokus ke anak-anak kurang mampu.

5. Adopsi Biaya Sekolah Rutin Satu Anak (Sedekah Jariyah)

Ini cara paling sustain: komitmen biayai satu anak secara rutin—bisa bulanan atau per semester—sampai mereka lulus. Misalnya kamu sisihkan 200-500 ribu per bulan dari gaji untuk biaya sekolah, buku, dan transportasi anak tersebut.

Dampaknya luar biasa. Satu anak yang sekolah bisa jadi dokter, guru, atau pengusaha yang kelak membantu banyak orang. Ilmu yang kamu fasilitasi akan terus bermanfaat, dan pahalanya mengalir seperti sedekah jariyah—bahkan setelah kamu wafat.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan" (HR. Muslim). Memfasilitasi pendidikan anak adalah investasi akhirat yang nyata.

Untuk yang ingin lebih praktis, kamu bisa salurkan sedekah pendidikan rutin lewat platform seperti [Sedekah.id](/artikel/7-cara-atur-cashback-e-wallet-jadi-sedekah-rutin-otomatis), di mana dana disalurkan transparan untuk beasiswa anak-anak yang membutuhkan.

Pahala yang Terus Mengalir

Setiap kali anak yang kamu bantu belajar sesuatu, pakai ilmunya untuk kebaikan, atau bahkan mengajarkan orang lain—pahala itu sampai ke kamu. Bayangkan: satu anak yang kamu sekolahkan jadi guru, lalu mengajar ratusan murid. Pahalamu berlipat tanpa henti.

Karena itu, sedekah pendidikan bukan cuma soal uang atau barang. Ini soal membuka pintu masa depan, mengembalikan harapan, dan menjadi sebab anak-anak Indonesia punya kesempatan yang sama.

[Mengajarkan anak empati lewat kebiasaan berbagi](/artikel/7-cara-ajarkan-anak-empati-sejak-dini-dengan-kebiasaan-berbagi) juga bisa jadi cara kita melibatkan keluarga dalam gerakan kebaikan ini. Anak-anak kita belajar bersyukur sambil membantu teman sebayanya yang kurang beruntung.

Yuk, Mulai dari yang Kecil

Nggak perlu nunggu kaya atau punya banyak waktu. Mulai dari yang kamu bisa: satu paket alat tulis, satu kali les gratis, atau menyisihkan sebagian rezeki rutin untuk pendidikan anak yang membutuhkan.

Kalau kamu ingin cara yang lebih mudah dan tersalurkan dengan baik, kamu bisa mulai sedekah pendidikan rutin lewat Sedekah.id. Dengan nominal berapapun, kamu sudah jadi bagian dari solusi—dan pahala jariyah yang terus mengalir.

Karena setiap anak berhak sekolah. Dan kita semua bisa jadi bagian dari harapan itu.

FAQ: Bantu Anak Putus Sekolah

Q: Apakah donasi alat tulis bekas boleh? A: Boleh, asalkan masih layak pakai dan bersih. Pastikan buku tulis masih banyak halaman kosong dan alat tulis masih berfungsi baik agar anak merasa dihargai.

Q: Bagaimana cara memastikan bantuan sampai ke anak yang tepat? A: Koordinasi dengan RT/RW, guru sekolah, atau lembaga terpercaya seperti Sedekah.id. Minta data dan laporan penyaluran agar transparan.

Q: Berapa minimal biaya untuk bantu satu anak sekolah per bulan? A: Tergantung daerah dan jenjang. Rata-rata 100-300 ribu per bulan sudah cukup untuk SPP, buku, dan transportasi anak SD/SMP di sekolah negeri.

Q: Apakah sedekah pendidikan termasuk sedekah jariyah? A: Ya. Selama ilmu yang difasilitasi bermanfaat, pahalanya terus mengalir—bahkan setelah kamu wafat. Ini investasi akhirat yang sangat berharga.

Q: Bagaimana kalau saya tidak punya waktu untuk mentoring langsung? A: Kamu bisa donasi rutin ke lembaga pendidikan, galang dana bareng teman, atau salurkan lewat platform seperti Sedekah.id yang mengelola program beasiswa anak kurang mampu.